Kastil Tua

Gerbang megah itu berdiri kokoh di tengah kota ini. Sama halnya seperti kastil-kastil di negeri dongeng, ada semacam kabut misterius menyelimuti bangunan luas itu. Aku tidak ingat lagi sejak kapan kami berkawan. Meskipun tidak sering aku mengunjunginya, namun selalu saja aku disapa senyum ramah para penjaga. Mungkin aku mengenal tempat ini jauh sebelum kamu sering membaca kabar tentangnya. Atau, mungkin aku berkesempatan mengenalnya sedikit lebih dalam daripada kamu yang memang sudah lama berkenalan dengannya. Apakah ia ramah juga padamu? Apakah ia menawarkan teduh atau dingin? Bagiku, kini semua sudah tidak ada artinya. Kami kini sudah berpisah. Maksudku, kami kini sudah dipisahkan.

Aku sering mendengar kabar bahwa bangunan itu dipenuhi dengan setan. Entahlah apa maksudnya, entah setan yang kasat mata, ataukah setan yang memang berwujud. Kadang, jika aku sedang berkunjung, aku merasa setan-setan itu menyapaku. Entah dengan senyuman, entah dengan seringai, atau mungkin dengan tatapan dingin. Namun semuanya sama menyapaku. Mau tak mau aku harus menyapa balik. Ah, tapi kewajiban itu baru datang beberapa tahun silam. Ketika masih bocah, aku tidak peduli dengan kewajiban berbasa-basi. Aku tidak peduli dalam bentuk apa mereka mendatangiku. Setan adalah setan, titik. Toh, mereka tidak akan langsung menyerang anak kecil. Anak kecil itu kan suci, katanya.

Mungkin sekitar dua tahun yang lalu aku mulai berkunjung lagi ke kastil megah itu. Saat itu suasananya menjadi lebih dingin. Saat sudah lebih dewasa, aku mengerti bahwa ada setan berwujud malaikat, atau malaikat yang dianggap seperti setan. Setan-setan berwujud malaikat penuh dengan senyum dan kata-kata manis. Tak henti-hentinya mereka menyanjungku. Katanya aku sudah tumbuh menjadi rupawan. Katanya aku hebat karena bisa masuk ke universitas negeri unggulan. Katanya, aku akan mengikuti jejak tetuaku. Katanya, katanya, katanya. Setan-setan itu kadang terlalu banyak bicara.

Ada satu setan yang pernah mengobrol cukup banyak dengan kami – aku dan tetuaku. Keturunannya adalah bibit unggul. Rupawan, cerdas, dan kaya. Ah, memang hebat benar setan itu! Kata-katanya manis menyanjung tetuaku. Tetuaku hanya tersenyum simpul. Apakah ia sadar sedari awal bahwa ia sedang menghadapi setan? Apakah ia tertipu oleh kata-katanya yang manis? Entahlah. Tapi ada rasa canggung yang menyebalkan yang aku rasakan saat itu. Saat itu, tetuaku dan aku masih tidak terlalu mengerti mengapa setan itu takut pada malaikat.

Sedangkan malaikat yang dianggap seperti setan itu tentu saja tidak pernah kulihat fisiknya. Ia tidak terlihat, tapi sungguh nyata adanya. Setan-setan itu bergidik takut mendengar namanya. Ah, tapi tetuaku dan teman-temannya kok tidak ketakutan, ya, ketika mendengar namanya? Mungkin malaikat hanya ditakuti oleh setan. Tetuaku, kan, hanya manusia biasa. Ia bukan malaikat. Ia bukan setan. Tapi betapa sialnya ia harus berurusan di kastil setan itu! Oh, iya, malaikat itu bernama fakta. Setan-setan itu sungguh takut fakta! Entah, memangnya kenapa dengan fakta? Tapi sekali lagi, tetuaku tidak takut dengan fakta.

Sudah cukup, ya, aku menceritakan tentang para setan yang mitosnya ada di kastil itu? Kamu boleh percaya itu mitos atau bukan. Terserah. Yang jelas, aku sudah mengalaminya sendiri. Bertemu dengan setan-setan itu. Setan-setan itu sering juga datang ke sekolah-sekolah. Masa,  sih, kamu tidak sadar pernah bertemu mereka?

Aku memang berkenalan dengan kastil itu karena tetuaku. Namun kini ia telah berpisah dengan kastil itu. Tadinya aku berharap agar kastil itu dipenuhi oleh manusia, agar setan-setan itu tidak lagi mengganggu kami para manusia. Tapi sayangnya satu persatu manusia ditendang keluar dari kastil itu, salah satunya adalah tetuaku. Sekarang kastil itu hampir sepenuhnya dikuasai oleh setan. Mungkin ada satu atau dua manusia di dalamnya. Aku hanya berharap mereka dapat selamat, dan pelan-pelan mampu mengisi kastil itu dengan manusia lainnya.

Yaaa, setidaknya jika manusia-manusia di kastil itu pada akhirnya harus pergi, mereka akan kembali datang ke sekolah. Untuk apa? Ya, seperti tetuaku itu, kerjaanya adalah memanusiakan manusia. Memanusiakan anak kecil polos, supaya ia tidak terjerat jebakan setan. Memanusiakan remaja-remaja yang sedang belajar, supaya ia tidak harus menjadi korban para setan. Memanusiakan para manusia dewasa agar tidak tergiur ajakan setan. Memanusiakan manusia yang juga sudah seusia tetuaku agar tidak takut lagi dengan malaikat bernama fakta.

Lalu? Lalu kini tetuaku berkawan akrab dengan fakta. Aku? Aku kini sudah dewasa dan masih belajar sebagai manusia, untuk menjadi manusia. Siapa tahu, kelak aku bisa berbagi apa yang aku tahu dengan manusia-manusia lainnya. Kastil setan itu? Masih berdiri kokoh. Hanya saja aku agak khawatir sebentar lagi ia akan roboh. Bayangkan saja, banyak setan yang menggerogoti bangunannya! Sedih, ya?

Tapi aku percaya, sih, jika kastil itu roboh, masih banyak manusia yang mau dan mampu membangunnya kembali. Membangun kepercayaan manusia lainnya, tanpa harus melupakan sekolah-sekolah yang juga sedang mereka urus lagi.

 

Bandung, 2 Mei 2017. Tulisan ini dibuat untuk memperingati hari Pendidikan Nasional, untuk mengingatkan bahwa kita sama-sama mempunya tugas untuk membenahi pendidikan di negeri ini. Sudah seharusnya institusi pendidikan berkaca dan membenahi diri, kembali pada tujuannya untuk mengabdikan diri pada negeri. Untuk kembali bersih tanpa cela memang tidaklah mudah, dan sepertinya mustahil. Namun saya percaya masi ada harapan untuk kami, para siswa dan para pengajar, bahwa suatu saat kami akan mendapatkan fasilitas yang lebih baik dari hari ini. Hari di mana institusi pendidikan yang bersih hanyalah sepenggal mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: