Jarak dalam Struktur Tiga Babak dalam Film Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986)

Berbagai unsur naratif yang digunakan dalam film Kejarlah Daku Kau Kutangkap (Sani 1986) dapat dengan mudah ditemui pada berbagai film Indonesia kontemporer. Film garapan Asrul Sani ini menawarkan pengalaman menonton film yang menyenangkan, mengingat cerita yang diangkatnya merupakan cerita yang ringan dan dibumbui dengan unsur komedi. Selain itu, akhir cerita yang berujung bahagia nampaknya menjadi salah satu alasan mengapa film ini masuk dalam kategori film populer pada masanya.

Namun, meskipun mendapat berbagai penghargaan, bukan berarti Kejarlah Daku Kau Kutangkap terbebas dari masalah. Pada beberapa bagian, film ini terasa berjarak dengan realitas. Saya akan memulai temuan saya mengenai jarak antara film dan realits dengan membahas pola struktur naratif terlebih dahulu.

Seperti yang dijelaskan oleh Pratista dalam tulisannya, bahwa “Tahap permulaan atau pendahuluan adalah titik paling kritis dalam sebuah cerita film karena dari sinilah segalanya bermula” (Pratista 2008: 45). Film Kejarlah Daku Kau Kutangkap diawali dengan adegan di mana Ramadan (Deddy Mizwar) yang merupakan seorang wartawan tengah meliput pertandingan voli. Pada awal cerita, kamera film menangkap sudut pandang Ramadan yang matanya (dan juga kamera yang ia gunakan) fokus pada tokoh Mona (Lidya Kandouw) yang menjadi salah satu peserta dalam pertandingan voli tersebut. Jarak antara film dan realitas hadir sejak tahap permulaan, di mana Ramadan masuk ke dalam lapangan dan mengikuti gerak Mona demi mendapatkan foto Mona dari jarak dekat. Pada adegan tersebut, ketidaknyamanan Mona maupun pemain lainnya ditunjukkan dengan sangat jelas. Keberadaan Ramadan di tengah lapangan tentunya merupakan hal yang rancu dan tidak umum terjadi pada pertandingan voli, atau pertandingan apapun, yang sesungguhnya. Selain itu, ketidakhadiran wasit dalam adegan tersebut menjadi salah satu hal yang hampir tidak mungkin terjadi. Apalagi pertandingan tersebut diceritakan sebagai pertandingan yang serius sehingga pantas untuk diliput oleh koran ternama.

Jarak antara film dan realitas muncul kembali pada tahap pertengahan. Pada tahap ini, “….alur cerita mulai berubah arah dan biasanya disebabkan oleh aksi di luar perkiraan yang dilakukan oleh karakter utama atau pendukung” (Pratista 2008: 45). Perubahan tokoh Ramadan, yang dipicu oleh saran yang ia terima dari Panji (Usbanda) dan Markum (Ikranegara), terkesan tiba-tiba. Ramadan yang digambarkan lembut terhadap Mona, secara tiba-tiba berubah sikapnya menjadi galak dan mudah marah terhadap Mona. Mona yang tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Ramadan kemudian meminta pendapat Marni. Marni menyarankan bahwa Mona harus dapat membalas sikap Ramadan dengan sikap yang keras. Pada adegan balas dendam yang dilakukan Marni, sikap Ramadan berubah drastis. Ramadan tampak takut dan segan terhadap Mona. Aksi pembalasan dendam ini terus berlanjut selama tahap pertengahan. Setiap pembalasan, baik pembalasan Ramadan maupun pembalasan Mona, digambarkan selalu berhasil membuat lawannya kesal. Hal ini menjadi rancu karena perubahan sikap tokoh terlalu cepat, sehingga penggambaran tokoh yang sepertinya sengaja ditampilkan tidak konsisten terasa terlalu dibuat-buat.

Setelah konflik yang panjang dan aksi saling membalas dendam, sampailah film pada tahap penutupan. Tahap penutupan dalam Kejarlah Daku Kau Kutangkap relatif lebih pendek daripada tahap pertengahan. Jarak antara film dan realitas, lagi-lagi, muncul dalam akhir cerita. Sesuai dengan struktur tiga babak, tahap penutupan dalam film ini terdiri dari konfrontasi akhir dan resolusi. Anehnya, berbagai konflik yang dilalui oleh Ramadan dan Mona seperti tidak berarti. Persekongkolan antara Marni dan Markum-lah yang kemudian menyatukan kembali Ramadan dan Mona. Cerita dalam film melewati proses rujuknya Ramadan dan Mona, dan langsung menunjukkan akhir yang bahagia di mana keduanya bersatu kembali.

Jarak antara film dan realitas dalam film Kejarlah Daku Kau Kutangkap hadir pada masing-masing tahapan: tahap permulaan, pertengahan, dan penutupan. Meskipun begitu, jarak tersebut – disengaja ataupun tidak – berpengaruh pada keberlangsungan cerita. Artinya, jarak yang tampil dalam masing-masing tahap saling terikat satu sama lain. Pada akhirnya, jarak antara film dan realitas yang muncul pada film Kejarlah Daku Kau Kutangkap menghadirkan sajian yang ringan sehingga disukai oleh penonton dan mengakibatkan film ini menjadi film populer pada masanya. Malah, strategi mengenai jarak yang ada dalam Kejarlah Daku Kau Kutangkap masih menjadi jurus jitu sehingga melampaui masanya. Pada berbagai film atau sinetron kontemporer, jarak antara cerita dan realitas seolah sengaja dihadirkan sejak awal hingga akhir cerita.

Daftar Pustaka

Pratista, H. (2008). Memahami film, Homerian Pustaka.

Sani, A. (1986). Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Indonesia, PT. Prasidi Teta Film.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: