Rasa Takut dalam Film Puisi Tak Terkuburkan (2000) Karya Garin Nugroho

Film Puisi Tak Terkuburkan (2000) garapan Garin Nugroho menyuguhkan latar ruang yang terbatas dengan dialog yang terbatas pula. Sesuai dengan judulnya, film ini tampaknya sengaja dibuat untuk menonjolkan puisi didong. Sebagian besar informasi disajikan melalui syair didong, baik yang disampaikan oleh Ibrahim Kadir sebagai narator maupun ketika ia sedang tidak berperan sebagai narator, dan juga oleh tokoh lainnya. 

Di awal film, beberapa baris narasi dihadirkan sebagai introduksi dari film Puisi Tak Terkuburkan

1 Oktober 1965, enam jenderal dibunuh di Jakarta dan PKI dituduh sebagai dalang dari kejadian tersebut.

Pengadilan yang demokratis belum pernah dilaksanakan.

Kebenaran dan bukti sejarah yang pasti tidak terungkap secara jelas. (Nugroho 2000)

Narasi ini, setidaknya bagi saya, merupakan bagian penting dari film ini. Pertama, narasi ini mengantarkan saya pada latar waktu dan cerita film selanjutnya. Kedua, narasi ini menunjukkan di mana keberpihakan film berada. Pada narasi selanjutnya, disebutkan bahwa Ibrahim Kadir merupakan seorang muslim dan seorang seniman didong (yang akan memerankan dirinya sendiri di dalam film ini). Informasi tersebut saya baca sebagai sebuah pertanyaan penting dalam film ini: bagaimana bisa seorang seniman didong asal Takengon, Aceh Tengah, muslim pula, ditangkap dan dianggap sebagai salah satu bagian dari PKI? Berbagai informasi dalam narasi di awal film cukup untuk mengantarkan penonton pada berbagai adegan selanjutnya. Selain syair didong, cerita dan suasana film dibangun dengan suguhan visual yang suram dan juga berbagai suara yang terdapat di dalam film.

Sebagian besar cerita dalam film berlangsung di sebuah penjara dengan dua sel yang berbeda. Film yang relatif sepi ini mampu menghadirkan rasa ngeri hanya melalui suguhan visual, pengambilan gambar dan latar tempat. Anne Rutherford, dalam tulisannya yang berjudul Poetics and Politics in Garin Nugroho’s A Poet, mengatakan Bahwa “The space of the film is the space of incarceration, shot entirely inside two prison cells and the guard’s foyer, a murky amorphous space shot in low resolution, black and white digital video” (Rutherford 2001: 2). Suasana mencekam dapat disaksikan melalui tempat yang sempit, dipenuhi badan yang saling berhimpitan dan gemetar. Hanya melalui gambar, Nugroho berhasil menunjukkan ketidakberdayaan yang dirasakan oleh Kadir dan tokoh lainnya. Selain penggambaran ruang sempit, teknik hitam-putih yang digunakan Nugroho dalam film Puisi Tak Terkuburkan menambah kesan suram. 

Namun, suara yang terdapat dalam film Puisi Tak Terkuburkan merupakan elemen pendukung yang paling menonjol. Salah satu contohnya adalah adegan di mana Kadir bercerita pada tahanan lain (yang diperankan oleh El Manik) mengenai cara tragis tahanan yang harus dieksekusi hingga mati. Tidak ada satu adegan yang menampilkan siapa eksekutornya dan bagaimana mereka mengeksusi para tahanan. Namun, kesaksian Kadir mampu menghadirkan perasaan ngeri yang sangat besar. Selain itu, rasa tidak nyaman, ketakutan, dan ketidakberdayaan disuguhkan pada adegan di mana sipir memanggil nama tahanan, satu per satu, untuk dieksekusi, 

The voice of the guard calling the names of the inmates to be taken is like an invisible string reeling in unwilling captives. As he recounts the terrible experiences of ’65, Kadir is still haunted by bodily memory of the sound of slaughter-the ‘crak-crak-crak’ sound of bodies being severed by the parang, the short sword, as head is separated from body. (Rutherford 2001: 3)

Film Puisi Tak Terbantahkan karya Garin Nugroho merupakan sebuah film yang apik. Film ini berhasil menampilkan keistimewaan didong dengan menggunakannya sebagai media bagi para tokoh untuk berdialog. Meskipun syair didong menjadi hal yang utama untuk menunjukkan berbagai suasana dan rasa para tokohnya, namun pengambilan gambar dan suara menjadi dua elemen pendukung yang membuat rasa ngeri lebih ‘nyata’. 

Daftar Pustaka:

Nugroho, G. (2000). Puisi Tak Terkuburkan (A Poet: Unconcealed Poetry). Indonesia: 83 – 90 minutes.

Rutherford, A. (2001). “Poetics and politics in Garin Nugroho’s A Poet.” Sense of Cinema 17.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: