Perempuan, Penonton, dan Pendengar dalam Iklim Musik

Tulisan ini dibuat pada tahun 2019 berdasarkan pengalaman saya sebagai perempuan, penonton dan pendengar dalam iklim musik, khususnya di Kota Bandung. Tulisan ini merupakan opini dan akan terus dikembangkan dan memiliki kemungkinan untuk berubah, tergantung dari hasil riset yang rencananya akan saya lakukan. Harapannya, tulisan ini akan menjadi sebuah tulisan yang dapat menunjukkan bagaimana gambaran dari iklim musik, khususnya iklim musik alternatif, dan kaitannya dengan perempuan, peran penonton, dan pendengar.

Iklim Musik (padanan terdekat yang saya temukan untuk istilah music scene), khususnya di Kota Bandung (karena saya tumbuh besar di kota ini, dan saya tidak banyak bergaul dengan lingkaran musik ‘alternatif’ di kota lain), selalu menarik bagi saya. Meskipun demikian, saya memiliki kesulitan untuk menulis mengenai iklim musik di Bandung karena saya tidak termasuk dari kategori penampil ataupun pelaku di balik industri musik. Saya selalu melihat iklim Musik melalui kacamata saya — secara harfiah maupun kiasan — yang merupakan penonton, pendengar, dan penikmat. Agaknya posisi saya sedikit lebih dari itu, mengingat saya beberapa kali mendapat kesempatan untuk ‘mengintip’ dan merasakan suasan di balik layar ataupun di belakang panggung — masih sebagai penonton dan pendengar, meskipun beberapa kali sempat berperan sebagai kru. 

Menariknya, posisi saya sebagai penonton, pendengar, dan penonton, serta posisi saya sebagai perempuan, mengantarkan pada pengalaman dan situasi yang khas — jika tidak dapat dibilang unik. Jeremy Wallach (2008) berargumen bahwa kebudayaan populer, khususnya musik pop, adalah area yang penting dalam pergumulan budaya yang dapat mengungkapkan banyak hal mengenai gender, kelas, dan divisi sosial lainnya yang terkarakterisasi oleh praktik relasi kuasa yang tidak seimbang dalam masyakarat. Setidaknya itu yang saya rasakan pada sebagian besar pengalaman yang berkelindan dengan iklim musik di Bandung. Iklim Musik merupakan area yang sangat maskulin dan hal ini dapat dibuktikan dengan mudah melalui perbandingan antara jumlah musisi (dan pelaku musik secara general) laki-laki dan perempuan. Wallach juga memiliki argumen yang serupa, “Like most other aspects of public life, the realm of Indonesian popular music performance and production is dominated by men” (Wallach, 2008: 17). Tentu saja situasi ini tidak selalu langsung memosisikan posisi perempuan secara inferior, tetapi dalam kasus saya, saya beranggapan bahwa sebagai penikmat musik perempuan, saya seringkali — jika tidak selalu — dihadapkan pada dua pilihan saja agar saya dapat ‘bertahan’ dalam lingkaran tersebut. Pilihan pertama adalah menghapus keberadaan saya secara penuh, sedangkan pilihan kedua adalah untuk menegosiasikan posisi saya sebagai perempuan di dalam ranah yang sangat maskulin. 

Saya ingat, saya pernah berada dalam posisi yang cukup tidak mengenakkan. Saat itu saya sedang berada di belakang panggung, lengkap dengan para penampil dan krunya. Saya satu-satunya perempuan yang berada di ruangan tersebut. Keadaan di belakang panggung cukup hangat, lengkap dengan makanan, buah-buahan, dan minuman yang disediakan oleh penyelenggara acara. Saat itu terlontar candaan dari seorang kru mengenai perempuan dan buah pisang. Saya masih ingat, kru tersebut melontarkaan candaan yang isinya kurang lebih seperti ini, “Lo nilai cewek tuh dari cara dia makan pisang” yang disambut dengan gelak tawa sebagian besar orang di tempat itu. Sialnya, saya duduk tepat di depan kru tersebut. Tampaknya, candaan tersebut tidak menimbulkan kecanggungan bagi sebagian besar orang yang berada di belakang panggung. Posisi saya sebagai perempuan dan penonton saya asumsikan sebagai posisi yang tidak signifikan bagi mereka. Saya bisa saja (dan mungkin sudah seharusnya) protes terhadap candaan yang seksis tersebut, tetapi lagi-lagi, keberadaan saya saja dianggap tidak ada artinya. Saat itu, saya merasa hanya memiliki dua pilihan: merespon atau diam saja. 

Saya memilih untuk diam, sebuah tindakan yang, setidaknya menurut saya, melanggengkan posisi saya sebagai penonton dan perempuan yang inferior terhadap toxic masculinity yang ada di hadapan saya. Saya mengira bahwa apa yang saya lakukan adalah manifestasi dari ajaran yang saya dapatkan selama bertahun-tahun sebagai seorang perempuan. Hal ini mengingatkan saya kepada Iris Young, yang berargumen bahwa femininitas normatif yang diajarkan kepada perempuan seringkali termanifestasi sebagai, “…a greater or lesser feeling of incapacity, frustration, and self-consciousness” (Young, 2005: 34). Saya merasa tidak dapat mengungkapkan ketidaksetujuan saya karena dalam area yang begitu maskulin, candaan seksis dianggap wajar saja. Secara sadar dan tidak sadar, saya menempatkan diri saya untuk tidak bersuara karena resiko dilihat terlalu kuat dan terlalu berani sebagai perempuan. Muara dari anggapan ini adalah munculnya cibiran dan anggapan bahwa saya terlalu sensitif, saya sebagai social justice warrior (yang saat ini merupakan julukan dengan konotasi yang negatif). Merespon ataupun diam, pada saat itu, memiliki efek yang sama bagi diri saya: merasa tidak nyaman sekaligus tidak berdaya karena saya merupakan satu-satunya perempuan dan pada saat itu peran saya tidak cukup strategis. Pada saat itu, sebagai perempuan dan penonton, saya merasa bahwa berada dalam posisi yang inferior, dan karena hal tersebut, yang membuat saya merasa sangat tidak diuntungkan.

Sama halnya dengan perempuan, penonton seringkali tidak dilibatkan lebih jauh dalam tatanan iklim musik. Panggung seringkali menjadi penegas jarak antara penampil dan penonton, melanggengkan anggapan bahwa penonton tidak memiliki kuasa yang sama dengan penampil. Ketidakberadayaan penonton, sedikitnya interaksi yang tercipta antara penampil dan penonton, juga seringkali dibebankan kepada penonton itu sendiri. Tentu saja anggapan saya tidak dapat disamaratakan dan tidak berlaku kepada semua penampil. 

Dalam beberapa kasus terbaru (yang tidak terbatas pada iklim musik di Bandung saja), penonton saya asumsikan memiliki posisi yang sama dengan pendengar. Ungkapan balas dengan karya sepertinya cukup populer digunakan oleh beberapa seniman ketika ada penonton ataupun pendengar yang, dengan sengaja atau tidak, memberi kritik atau sekadar komentar terhadap sang seniman ataupun karya dari seniman tersebut. Hal ini, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, merupakan penegas jarak antara penampil/yang memiliki karya dengan penonton/pendengar. Sikap seperti ini seolah-olah mengabaikan fakta bahwa penonton atau pendengar tidak memiliki kewajiban untuk membuat suatu karya dan memiliki pandangan bahwa siapapun yang tidak memiliki ‘karya’ maka tidak berhak untuk memberi kritik atas karya seniman (dengan catatan bahwa saya tidak lantas menganggap semua seniman memiliki sikap seperti ini). Meskipun tidak semua seniman/penampil memiliki sikap yang sama, tapi keberadaan ‘kepercayaan’ ini, bahwa pendengar/penonton baru boleh berkomentar jika mereka telah memiliki ‘karya’, memang nyata dan ada. Hal ini lagi-lagi menunjukkan posisi penonton/pendengar yang lebih inferior, dan karenanya, suaranya tidak dianggap penting dan signifikan. Setidaknya, hal-hal tersebut yang acapkali saya tangkap selama ini. 

Dengan demikian, ada beberapa kemiripan yang saya temukan, berdasarkan pengalaman saya, sebagai perempuan, penonton, dan pendengar yang berada dalam iklim musik baik secara spesifik di kota Bandung ataupun secara umum di tataran yang lebih luas lagi. Pengalaman saya sebagai perempuan yang juga merupakan sebagai penonton di iklim musik alternatif di kota Bandung seringkali menempatkan diri saya sebagai yang inferior. Sementara dalam konteks yang lebih luas lagi, pendengar juga seringkali dianggap tidak pantas untuk memberikan kritik atas karya seorang seniman/musisi, terlebih ketika ia tidak memiliki karya serupa. Dalam hal ini, relasi kuasa laki-laki atas perempuan dan yang memiliki karya atas yang menikmati karya tampak dengan cukup jelas dan menimbulkan situasi yang serupa.

Referensi

Wallach, J. (2008). Modern noise, fluid genres : popular music in Indonesia, 1997-2001. Madison, Wis.: University of Wisconsin Press.

Young, I. M. (2005). On Female Body Experience: “Throwing Like a Girl” and Other Essays: Oxford University Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: