Tabu Gak Tabu: Pengantin Baru dan Pilihan Kontrasepsi. Ternyata Gak Gampang Cari yang Cocok, Ya!

Akhir bulan Mei lalu gue melangsungkan akad nikah yang sangat sederhana di rumah, karena situasi pandemik ini. Setelah menikah, niatnya memang nggak mau langsung isi alias hamil. Langkah yang suami dan gue ambil adalah berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui kontrasepsi apa yang cocok untuk gue.

RSIA Graha Bunda. Source: https://rsia-grhabunda.com/

Kondisinya saat itu adalah kami berencana untuk menunda kehamilan sekitar satu sampai dua tahun. Gue punya intoleransi/alergi dengan penggunaan kondom, jadi cara itu udah pasti nggak akan digunakan. Dokter yang kami datangi saat itu adalah dr. Marissya Tasya, SpOG, M. Kes di RSIA Grha Bunda, dan beliau menyarankan untuk menggunakan pil KB. Tadinya, sih, kepengen IUD. Tapi berhubung menundanya hanya satu sampai dua tahun saja, jadi beliau tidak menyarankan penggunaan IUD. Konsultasinya kalau gak salah sekitar Rp 200,000 di bulan Juni 2020, tapi itu belum sama pil KB-nya ya. Kami diresepkan pil KB merk Yasmin.

Pil KB merk Yasmin

Setelah dua bulan berjalan, ternyata ada ketidakcocokan lagi dalam penggunaan pil KB. Gue percaya, sih, setiap orang efeknya berbeda-beda. Ada yang bilang bikin berat badan naik, kulit jerawatan, kulit jadi mulus, dan lain-lain. Kalau di gue, efeknya adalah lack of desire dan itu signifikan banget terasanya. Jadi maleeeees banget. Sudah dicoba lepas dulu pil KB beberapa kali, dan ternyata betul, kemalasan itu most likely efek dari konsumsi pil KB. Selain itu rasanya jadi lebih sensitif dan gampang marah. Tapi kalau yang terakhir, gue nggak yakin sih apakah itu efek pil KB atau ya udah emang pemarah, hahaha. Hadeeeh, ribet ya urusannya.

Ya sudah, akhirnya gue memutuskan untuk lepas pil KB dan kehidupan rumahtangga kami jadi lebih nyaman setelahnya. Tapi ternyata… takdir berkata lain. Pada dasarnya suami dan gue memang subur, kali ya. Jadi gak lama setelah lepas, siklus menstruasi kok jadi telat. Awalnya cuma seminggu, gue diemin dulu. Pas dua minggu telat, masih mikir lagi PMS karena badan linu dan nyeri, serta lebih mudah emosi. Terlebih lagi, siklus menstruasi gue memang mudah berubah ketika lagi stress. Sebulan berlalu, kok masih nggak mens ya?

Ya udah, suami beliin testpack yang ternyata… garisnya ada dua. Kaget, rasanya kayak ada di film-film remaja telat mens. Kadang suka lupa kalau umurnya sudah gak remaja dan sudah menikah, hahaha. Karena hasil testpack pertama burem, jadilah besoknya beli dua testpack dengan brand yang berbeda. Hasilnya masih sama. Ya sudah, ternyata rezekinya hamil setelah kurang lebih tiga bulan menikah.

Untuk cerita awal kehamilan dan lain-lain, gue akan share di post selanjutnya, ya. Sampai ketemu lagi, teman-teman!

Best,

April.

One Reply to “Tabu Gak Tabu: Pengantin Baru dan Pilihan Kontrasepsi. Ternyata Gak Gampang Cari yang Cocok, Ya!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: